Senin, 07 Februari 2022

Masuknya Islam ke Pulau Untung Jawa

Pemandangan Pulau Ubi yang indah dengan pasir putihnya pada tahun 1960-an, kini tak terlihat lagi. Sekarang, pulau yang juga dikenal sebagai Pulau Ubi Besar itu tak terlihat lagi, sudah terendam air Laut Jawa. pulau yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu itu sudah tak berwujud pulau. Hanya tiang besi berkarat setinggi sekitar 2 meter yang menandakan bahwa itu adalah sebuah pulau. Bagi orang awam, tiang besi itu bisa jadi hanya sebatas tiang, tak bermakna apa-apa. Namun, bagi nakhoda kapal atau para pelaut, tiang itu menandakan bahwa kawasan itu dangkal, sehingga kapal tidak boleh mendekat

Pulau Ubi mendadak menjadi perbincangan, karena ternyata di pulau inilah tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ditembak mati dan dikubur. Selama ini, berita tentang eksekusi mati dan pemakaman teman seperguruan Soekarno dibuat kedap. Tak ada satu pun keluarga yang mengetahui di mana Kartosoewirjo ditembak mati dan dimakamkan. Kabar yang diterima keluarga dari pemerintah, hanyalah bahwa salah satu murid HOS Tjokroaminoto itu ditembak mati di sebuah pulau di Kepulauan Seribu.

Sejumlah penduduk di Kepulauan Seribu yang pernah tinggal di Pulau Ubi membenarkan foto-foto eksekusi Kartosoewirjo itu di Pulau Ubi. "Ya ini memang Pulau Ubi. Saya dulu tinggal di sana sampai beberapa tahun setelah Indonesia merdeka," kata Haji Yahya yang kini sudah berusia sangat lanjut. Dia pun mengenali pohon tinggi di pulau itu. "Di pulau ini hanya satu pohon yang tinggi. Ya hanya ini. Ini adalah pohon kresek," kata Yahya, yang mengaku tidak mengetahui bahwa Kartosoewirjo dimakamkan di bawah pohon itu

Gambar eksekusi hukum mati Kartosoewirjo di Pulau Ubi

Sumber : https://m.detik.com

Gambar perbandingan Pulau Ubi pada zaman dulu dan sekarang.

Sumber : https://m.detik.com


Sekitar tahun 1940-an, datang serangan nyamuk besar-besaran. Karena tak tahan dengan penderitaan rakyatnya, Bek Saenan menyarankan untuk bermukim ke Pulau Ubi Besar. Penderitaan seakan semakin parah. Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari hari yang biasa mereka dapat dari Pasar Ikan Sunda Kelapa menjadi sangat sulit diakibatkan oleh penjajahan Nippon (Jepang) saat itu

Tahun 1945, perubahan besar terjadi diseluruh pelosok Nusantara karena Indonesia sudah merdeka dari belenggu penjajah. Perubahan ini pun dirasakan oleh masyarakat kepulauan seribu pada umumnya. Antara lain kata 'Bek' berubah menjadi Lurah begitu juga dengan kepemimpinannya. Pemerintahan bukan lagi Hindia Belanda atau Jepang, melainkan Pemerintahan Indonesia. Berubahnya mekanisme kepemerintahan, Bek Saenan pun digantikan oleh Lurah pertama yaitu Lurah Maesan. Pulau Ubi Besar tak luput dari abrasi. Atas prakarsa Lurah Maesan dengan persetujuan pemerintah mereka hijrah yang kedua kalinya ke Pulau Untung Jawa. Dan sekarang Pulau Ubi sudah habis terkikis oleh air akibat abrasi yang terjadi secara terus menerus. Dengan begitu agama islam di Pulau Untung Jawa semakin menyebar luas, dan hingga saat ini penduduknya mayoritas memeluk agama islam.

Gambar tugu peringatan kepindahan rakyat Pulau Ubi ke Pulau Untung Jawa

Sumber: www.PulauSeribu.com

Asal-Usul Pulau Untung Jawa

Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Pulau Untung Jawa dikenal dengan sebutan pulau Amiterdam. Pulau ini kemudian berganti nama menjadi Pulau Untung Jawa, karena sebagian besar penghuni di pulau ini adalah masyarakat pribumi dari daratan pulau Jawa. Sekitar tahun 1940-an, Pulau Untung Jawa mengalami wabah nyamuk besar-besaran. Musibah ini membuat penduduk Pulau Untung Jawa bermigrasi warga ke Pulau Ubi.

Saat Indonesia dikuasai Oleh Hindia Belanda, ternyata pulau-pulau di wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa sudah dikuasai oleh orang-orang pribumi yang berasal dari daratan Pulau Jawa. Sejak tahun 1920-an, wilayah ini dipimpin oleh seseorang yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Bek' (Lurah-red) Fi'i dan Bek Kasim, yang berdomisili di Pulau Kherkof dan memimpin beberapa pulau.

Penguasaan Belanda menjadikan nama-nama pulau yang ada dikepulauan seribu sekarang yang kita kenal berbau Belanda, kemudian pasca kemerdekaan Republik Indonesia, nama nama tersebut telah diubah. beberapa nama pulau yang diganti Namanya adalah sebagai berikut:

  • Pulau Amiterdam menjadi Pulau Untung Jawa.
  • Pulau Middbur menjadi Pulau Rambut (suaka margasatwa)
  • Pulau Rotterdam menjadi Pulau Ubi Besar.
  • Pulau Sehiedam menjadi Pulau Ubi Kecil.
  • Pulau Purmerend menjadi Pulau Sakit kemudian diubah kembali menjadi Pulau Bidadari.
  • Pulau Kherkof menjadi Pulau Kelor.
  • Pulau Kuiper menjadi Pulau Cipir/Khayangan.
  • Pulau Onrust menjadi Pulau Kapal/Pulau Sibuk

Gambar Peta Kepulauan Seribu

Sumber: https://travel.tempo.com


Imigrasi


Karena kondisi daratan pulau yang abrasi (terkikis oleh air laut) sekitar tahun 1930-an, Bek Marah (nama Lurah tersebut) menganjurkan rakyatnya yang tinggal di Pulau Kherkof (Pulau Kelor) untuk pindah ke Pulau Amiterdam (Untung Jawa). Perjalanan dengan kapal layar sampai di Pulau Amiterdam, dan penduduk asli pulau menerima dengan tangan terbuka. Nama asli penduduk Amiterdam tersebut antara lain Cule, Kemple, Derahman, Derahim, Selihun, Sa'adi, Saemin, mereka menganjurkan agar segera memilih lahan untuk langsung 'digarap'. Akhirnya Pulau Amiterdam berganti nama menjadi "Pulau Untung Jawa" yang berarti keberuntungan bagi orang orang dari daratan Pulau Jawa saat itu. Berakhirnya nama Amiterdam dan berakhir pula kepemimpinan Bek Marah yang kemudian digantikan oleh Bek Midih dengan masa jabatan selama kurang lebih 10 tahun, lalu dilanjutkan kembali oleh Bek Markasan kemudian Bek Saenan.



Profil Pulau Untung Jawa

Pulau Untung Jawa memiliki luas sekitar 40,10 Ha dan berpenduduk kurang lebih sebanyak 2. 230 jiwa yang terbagi menjadi 9 RT dan 3 RW. Sebagai pusat pemerintahan Kelurahan Pulau Untung Jawa, di pulau ini terdapat kantor lurah serta fasilitas pemerintahan lainnya seperti Puskesmas, sekolah, dan homestay. Untuk mencapai Pulau Untung Jawa tidak terlalu sulit, dapat melalui dermaga Muara Angke (Jakarta Utara), Tanjung Pasir ataupun Rawa Saban (Tangerang) karena jaraknya tidak begitu jauh dari Daratan, hanya memerlukan waktu sekitar 30-40 menit saja. Banyak angkutan laut yang tersedia untuk menuju Pulau Untung Jawa.

Gambar Pulau Untung Jawa

Dari Tangerang, tempat penyebrangan ke Pulau Untung Jawa adalah Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, 29 km ke utara dari kota Tangerang. tidak hanya menjadi pemukiman warga penduduk, Pulau Untung Jawa juga menjadi kawasan wisata andalan di Kepulauan Seribu. Di Pulau Untung Jawa terdapat berbagai macam wisata. Mulai dari cinderamata, pertunjukan hiburan di gedung sarana wisata serba guna, jajanan makanan dan minuman khas pesisir, hingga panorama pantai maupun cagar hutan bakau yang bisa memanjakan mata wistawan. Sehingga tidak heran apabila di setiap akhir pekan Pulau Untung Jawa selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari Jakarta, Tangerang dan daerah lainnya. Bahkan touris asing pun sering berdatangan untuk berlibur. Banyak terdapat jenis burung dan Hutan Bakau di Pulau ini dengan suasana yang masih alami dan jarang tersentuh oleh tangan-tangan jahil perusak hutan, banyak spesies menarik yang dapat kita jumpai di Pulau Rambut.

Pariwisata dengan pemandangan hutan mangrove, pesisir pantai, dan juga keindahan alamnya bisa dinikmati wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Untung Jawa. Jauh dari hiruk pikuk kota, kita bisa merasakan keindahan alam dengan suasana pemandangannya yang menarik. Sarana permainan yang ada di Wisata Pulau Untung Jawa mungkin tidak jauh berbeda dari Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Harapan dan pulau-pulau lainnya, dimana kita bisa menikmati Jetsky, Banana Boat, Snorkling, Diving, kuliner, saung pantai.dan masih banyak lagi.

        Jajanan yang tersedia di saung-saung sepanjang area Pulau Untung Jawa khususnya yang terdapat pada setiap pantai merupakan sesuatu yang khas. Kepulauan telah menawarkan bentuk-bentuk paket makanan dengan ikan bakar khas Pulau Untung Jawa. Pengunjung dapat menikmati ikan bakar dengan memilih ikan hidup yang segar kemudian di bakar ataupun yang sudah tersedia. Selain itu, untuk guna lebih memanjakan bagi para pengunjung yang menyukai bersepeda keliling Pulau Untung Jawa melalui Jalur Lingkar sambil melihat hutan Mangrove juga sudah disediakan di sini. Pulau Untung Jawa merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang sudah mampu menanggulangi kebersihan lingkungan, Pulau Untung Jawa juga sudah memiliki incenerator atau pembuangan sampah akhir.

Untuk meningkatkan sarana kepariwisataan, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu juga telah mambangun pujasera. Sebuah fasilitas wisata belanja yang ditujukan untuk mengoptimalkan ekonomi masyarakat. Tampaknya pembangunan sektor kepariwisataan berbasis pemberdayaan masyarakat ini menjadi potensi Pulau Untung Jawa yang perlu terus digali dan dikembangkan.

Konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat diterapkan dalam menggali potensi ekonomi sekaligus menciptakan daya tarik wisata, dengan demikian sumber pendapatan yang diperoleh tidak saja mengalir bagi Pemerintah Kabupaten akan tetapi tersebar juga di kantong masyarakat yang menyediakan jasa wisata. Pada tahun 2017 dilakukan renovasi besar di pantai bagian barat yang saat ini menjadi tempat rekreasi maupun pusat cenderamata.

Di masa mendatang dalam rangka meningkatkan daya tarik pariwisata Kepulauan Seribu, maka atraksi di Pulau Untung Jawa akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Rupanya, tempat indah ini tidak jauh dari Jakarta. Pulau Untung Jawa namanya. Untuk menuju ke pulau ini, hanya membutuhkan waktu 30-45 menit menggunakan kapal feri dari Pantai Marina Ancol. Atau bisa juga menyeberang dari Pantai Tanjung Pasir dan Dermaga Muara Angke. Sejak dulu Pulau Untung Jawa menggunakan tenaga pembangkit listrik berupa mesin diesel oleh karena itu penggunaan listrik pada waktu itu tidak begitu stabil, sampai pada tahun 2009 pemerintah mulai menggantinya menggunakan PLN yang di salurkan dari Tanjung Pasir ke Pulau Untung Jawa melalui kabel dasar laut sampai saat ini.


Baca Juga

Profil Pulau Untung Jawa

Pulau Untung Jawa memiliki luas sekitar 40,10 Ha dan berpenduduk kurang lebih sebanyak 2. 230 jiwa yang  terbagi menjadi 9 RT dan 3 RW. S...